Kamis, 27 Juni 2013

5 Tips Mudah Jadi Traveler yang Ramah Lingkungan

TravelerJakarta - Menjadi green traveler tak cuma pilihan, namun kesadaran. Keinginan untuk menikmati alam namun tetap menjaganya bersih dan rapi, juga harus timbul dari diri Anda sendiri. Berikut 5 tips mudah jadi traveler yang ramah lingkungan.
Semua orang berharap dunia bisa lebih hijau dan sejuk, tapi tak semua orang mengerti bagaimana menjaga keasrian alam. Untungnya, menjadi traveler ramah lingkungan tak sesulit yang Anda bayangkan. Disusun detikTravel, Rabu (30/1/2013) inilah 5 cara mudah menjadi traveler yang ramah lingkungan:
1. Bawa botol minum sendiri
Daripada membeli air mineral botolan, lebih baik membawa botol minum sendiri saat sedang liburan. Tujuannya sederhana yaitu mengurangi sampah plastik. Saat liburan di tempat yang panas atau banyak bergerak, bayangkan berapa banyak air yang akan Anda minum.
Bayangkan juga berapa banyak botol plastik yang akan Anda buang. Meski telah dibuang di tempat sampah, tetap saja, sampah plastik akan sulit untuk diurai. Alangkah baiknya Anda membawa botol dan mengurangi sampah. Bawalah botol yang cukup besar agar air tidak cepat habis.
2. Gunakan produk yang ramah lingkungan
Saat ini, sudah banyak produk yang ramah lingkungan seperti sabun, shampo, pembersih kuman dan lain-lain. Sadar tak sadar, banyak sunblok yang mengandung bahan kimia yang merusak terumbu karang dan biota laut. Maka, saat membeli, perhatikan lagi informasi yang tertera di produk. Pilihlah yang bertuliskan biodegradable atau reef-friendly (ramah terhadap karang).
3. Kurangi penggunaan tisu
Meski sudah menjadi bagian dalam aktifitas sehari-hari, ada baiknya Anda mengurangi penggunaan tisu. Jika selesai muka, keringkan dengan handuk dan jika mencuci tangan, keringkan dengan menggunakan hand-dryer.
Tak lupa, bawa selalu handuk kecil yang bisa jadi pengganti tisu. Dengan begitu, Anda sudah membantu mengurangi penebangan pohon dan secara tidak langsung, telah membuat bumi lebih sejuk.
4. Jangan beli atau bawa aksesoris yang berasal dari laut
Kerang atau bintang laut mungkin terlihat cantik untuk jadi oleh-oleh. Namun sayangnya, kebanyakan aksesoris tersebut berasal dari penangkapan yang membabi-buta serta ilegal.
Anda tentu tak mau kan membantu mereka mendapatkan uang dari hasil merusak eksosistem yang ada di laut. Maka dari itu, tahan diri Anda jika ingin membeli aksesoris dari laut. Pilihlah aksesoris lain seperti rajutan atau dari rotan.
5. Hemat air saat di hotel atau penginapan
Saat di hotel, jarang sekali traveler yang ingat untuk menghemat air. Banyak turis yang membiarkan air menyala selama mandi dan tidak merasa bersalah. Hindari tingkah seperti itu karena membuang air bersih secara cuma-cuma adalah tindakan yang sia-sia.
Matikan air saat sedang sikat gigi, cuci muka dan mandi. Cukup nyalakan air dengan kecil dan gunakan seperlunya.
Sumber : http://travel.detik.com/read/2013/01/30/091143/2155943/1048/5-tips-mudah-jadi-traveler-yang-ramah-lingkungan?v771108bcj

Kesadaran Warga Bisa Cegah Banjir

JAKARTA (Pos Kota) – Pola hidup masyarakat yang tidak begitu peduli dan menganggap kali sebagai ‘buangan’ sampah rumah tangga turut memperburuk kondisi saluran dan kali. Hal ini diungkapkan Rifig Abdullah, Kasudin PU Air Jakut, akan salah satu faktor penyebab banjir dan genangan di Jakut.
Tak hanya itu,katanya, kondisi saluran mikro juga tak kalah buruknya dibanding kondisi kali di 6 wilayah kecamatan (Penjaringan, Pademangan,Tanjung Priok, Cilincing, Kelapa Gading dan Koja). “Lihat saja di lapangan, sarana prasara saluran sudah kita sediakan bahkan banyak juga yang dibangun. Tetapi, ini tentunya tidak hanya bisa mengandalkan Sudin PU Tata Air untuk memelihara. Kemampuan anggaran kita untuk memperbaiki dan merawat kali terbatas. Dibutuhkan peran serta masyarakat untuk bisa lebih peduli dan menjaga kebersihan kali dan saluran dari sampah,”katanya.
Karena, menurutnya, tidak akan ada artinya perbaikan kali yang dilakukan jika masyarakat tetap saja menjadikan kali sebagai ‘jamban’ dan tong sampah warga. “Kita perlu pertanyakan, kemana sisa sampah dan buangan air kotor warga di buang. Di setiap pelosok perumahan, sebagain besar sampah dan air kotor di buang ke kali. Kali tidak lagi menjadi aliran air bersih, tetapi menjadi tong sampah warga
Belum lagi persoalan penutupan saluran yang sering terjdi disepanjang jalan raya oleh kegiatan ekonomi warga. “Lihat saja di sepanjang Jl Kramat Raya, Koja, di sisi kiri dan kanan saluran ditutup deker. Belum lagi di komplek perumahan dan pertokoan, pusat bisnis, saluran dibuat inrit (jembatan penghubung). Padahal untuk membuat itu haras mengatongi izin sarana prasaran dari Dinas PU DKI Jakarta,”jelasnya.
Untuk menumbuhkan kesaradan masyarakat untuk menjaga kali dan saluran dari sampah,menurut Rifig, perlu digalakan program kerja bakti di setiap RW di keluarahan. “Untuk itu para lurah dan camat sebagai ujung tombak untuk menggerakkan warganya dalam pengendalian kebersihan lingkungan terutama saluran dan kali,”pungkasnya.

(lina/sir)

70 Juta Jiwa Penduduk Buang Air Besar Sembarangan

 
70 Juta Jiwa Penduduk Buang Air Besar Sembarangan 
 
JAKARTA (Pos Kota) – 70 Juta penduduk Indonesia masih buang air besar sembarangan akibat buruknya jangkauan akses penduduk untuk sektor air dan sanitasi.
“Imbasnya, dari setiap 100 ribu bayi yang lahir, 75 di antaranya meninggal sebelum menginjak usia lima tahun akibat diare,” ungkap Oswar Mungkasa, Kepala Biro Perencanaan & Penganggaran Kementerian Perumahan Rakyat pada Wash Talk ‘Ada Apa Dengan Sanitasi Air Minum dan Higinitas di Negeri Ini’, yang diadakan USAID Indonesia melalui proyek IUWASH, di Jakarta.
Oswar menjelaskan, setiap tahun 15 ribu anak meninggal akibat yang sama. Ada lebih dari 423 kasus per 1000 penduduk.
Dia mengakui, di antara negara-negara Asean, Indonesia masih tertinggal terkait jangkauan akses penduduk untuk sektor air dan sanitasi. Malaysia memiliki 100 persen cakupan akses air dan 96 persen cakupan sanitasi. Indonesia sendiri masih di bawah Filipina dan Kamboja.
“Diare terjadi bila perut kita terinfeksi mikroba yang dibawa tinja,” jelas. Oswar Mungkasa,
Tak hanya diare, sambungnya, penyakit demam tifus, kolera, hepatitis A, dan polio menghantui masyarakat akibat mikroba yang terbawa oleh perilaku tidak sehat. Parahnya, bagi orang miskin, sanitasi tidak menjadi prioritas utama. Ini yang membuat 80 persen air tanah tercemar.
Alfred Nakatsuma, Director Environment Program USAID Indonesia, menambahkan, persoalan sanitasi tak hanya di Indonesia. Lebih dari satu miliar orang di dunia tidak bisa mendapatkan air bersih. Sekitar 40 persen penduduk dunia tidak punya fasilitas untuk buang air besar.
“Satu miliar orang masih buang air besar di alam terbuka. Dari jumlah itu, 81 persennya terjadi di India, Indonesia, China, Ethiopia, Pakistan, Nigeria, Sudan, Nepal, Brazil, Nigeria, dan Bangladesh,” ungkapnya.
Karenanya, pembangunan air dan sanitasi memerlukan perencanaan pemerintah dan partisipasi masyarakat. Pembangunan sektor ini butuh dukungan banyak pihak.
Masyarakat harus bisa melakukan perubahan untuk diri sendiri dan lingkungannya. Harus diingat, 94 persen insiden diare karena faktor lingkungan berupa konsumsi air yang tidak sehat dan sanitasi yang buruk.
(aby/sir)

Rabu, 26 Juni 2013

Mobil Ramah Lingkungan



Si Mobil Hemat Ramah Lingkungan Teknologi Hybrid

Sejalan dengan trendsetter dunia yang menuju penggunaan teknologi yang efisien BBM dan ramah lingkungan, menjadikan produsen pembuat mobil untuk memikirkan alternative baru. Toyota kemudian memunculkan tehnologi hibrida bertujuan untuk mengendalikan laju penggunaan bahan bakar minyak yang menghasilkan gas CO2.
Sebagaimana kita tahu gas Co2 hasil pembakaran kendaraan bermotor memberikan kontribusi 20% dari total gas buangan pemakai energi fosil. Kondisi ini memberikan pengaruh terhadap kerusakan lingkungan. Teknologi mobil hibrida ini sangat diharapkan karena memiliki efek berkurangnya emisi Co2 ke lingkungan.
Teknologi hibrida membantu mengurangi konsumsi bahan bakar, dan sekaligus menjadikan perusahaan pembuat mobil dapat memenuhi ambang batas emisi karbon-dioksida (Co2) yang dipersyaratkan. Dan, teknologi tersebut dapat diterapkan di seluruh penjuru dunia. Sebut saja nama-nama produsen mobil seperti; General Motor, BWM dan Daymler-Crisler , VW, Porche, Ford Toyota, Nissan, Mitshubishi dan Honda sudah memproduksi mobil berteknologi hibrida ini.
Bagaimana cara kerja mobil hibrida dibandingkan dengan mobil berbahan bakar bensin biasa? Perbedaannya adalah disaat mobil hibrida dalam posisi berhenti, maka mesin akan mati secara otomatis sehingga konsumsi bahan bakar nol. Sedangkan ketika mobil mulai bergerak dan masuk proses akselerasi maka mesin beroperasi dalam mode low-speed valve timing, dengan dukungan motor listrik. Pada saat akselerasi ringan dan kecepatan tinggi, tenaga dihasilkan oleh mesin. Pada saat deselerasi, keempat katup mesin tertutup dan pembakaran bahan bakar dihentikan.
Motor listrik akan secara otomatis menyerap tenaga maksimum yang dilepaskan saat proses deselerasi dan tersimpan dalam baterai. Jadi, konsumsi bahan bakar yang hemat itu diperoleh berkat bantuan dari mesin listrik, termasuk matinya mesin dalam keadaan berhenti dan berfungsinya mesin listrik saat mobil melanjutkan perjalanannya kembali. Mesin listrik juga digunakan untuk menahan atau mengurangi kecepatan (deselerasi), dan pada saat itulah mesin listrik tersebut berfungsi sebagai generator yang mengisi listrik ke dalam baterai.
Dengan teknologi hibrida Honda mengklaim mesin Civic nya bisa menghasilkan performa maksimal yang setara dengan kekuatan mesin 1.8 liter sekaligus efisiensi bahan bakar hingga mencapai 31 km/liter. Sementara Toyota yang lebih dahulu menggunakan teknologi hibrida mengeluarkan Toyota Prius yang efektif digunakan didalam kota dimana banyak rambu lalu lintas yang akan menyebabkan frekuensi penggunaan rem dan aksel tinggi, maka sistem hibrida pada Toyota Prius akan sangat efisien dalam mengkonsumsi BBM tercatat paling irit, yaitu sekitar 38 km/liter.

Mobil Ramah Lingkungan dari Bambu
-
Selasa, 2 Desember 2008 10:31 wib

Kazumi Matsushige sedang mengendarai Bamgoo (Foto: daylife.com)
KYOTO - Peduli terhadap lingkungan tidak harus dijauhkan dari teknologi. Begitulah prinsip yang dipegang Kazumi Matsushige, yang berhasil menciptakan mobil ramah lingkungan dari bambu.

Bersama para peneliti di Venture Business Laboratory Universitas Kyoto, Jepang, Matsushige menciptakan mobil bambu atau yang dikenal dengan Bamgoo. Mobil ini terbuat dari bambu dan digerakkan denfgan energi listrik.

Bamgoo yang dipamerkan di Kyoto 14 November lalu, memiliki berat 60 kg, panjang 2,7 meter, lebar 1,3 meter dan tinggi 1,65 meter. Mobil yang hanya menyediakan satu tempat duduk bagi pengendara tersebut, dapat menempuh jarak 50 km sebelum di isi ulang kembali.

Menurut Matsushige, Bamgoo merupakan mobil yang didesain khusus sehingga aman bagi pengendaranya. Dia menjamin orang yang mengendarai mobil ini akan merasa nyaman dengan desain dan teknologi dari bambu. Dirinya juga mengatakan, dalam teknologi modern keselamatan merupakan faktor penting yang tidak boleh ditinggalkan.

Menurut Matsushige,orang yang peduli pada lingkungan tidak harus jauh dari teknologi. "Perduli dengan lingkungan tak harus menggunakan sepeda. Tapi, kembangkanlah imajinasi dan pemikiran untuk menciptakan teknologi demi terciptanya lingkungan yang sehat." katanya.

Penemuan pria yang mendirikan Kyoto University Venture Business Laboratory (KUVBL) pada 1995 itu ternyata dipublikasikan pula pada media The New York Times. Produk ini dianggap selaras dengan harapan Asosiasi Transportasi Lingkungan (ETA) yang menyarankan agar industri automotif dunia mulai menggunakan produk-produk dari alam, seperti kayu, bambu, kulit kacang dan jerami.


https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRPQEO426kBxEmvgMQ90B7xh2hKuE0-VBx9vOR7TJZGen7DfqctPg
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQEFmRHU4P-IjoHnthC0cs-T6JKVaGgNwkFoWHr1gn5zwOsLZKx